Mapag Sri Desa Jengkok Indramayu: Dari Ritual Kidung Hingga Panggung Sandiwara yang Gerakkan UMKM
INDRAMAYU - Pemerintah Desa Jengkok, Kecamatan Kertasemaya, Kabupaten Indramayu, menggelar tradisi adat Mapag Sri yang dipusatkan di kantor desa setempat pada Senin (04/05/2026). Perayaan ini menjadi momentum penting bagi masyarakat agraris sebagai perwujudan syukur atas hasil panen raya yang melimpah.
Secara harfiah, Mapag Sri diartikan sebagai ritual menjemput "Dewi Sri" yang disimbolkan sebagai pimpinan atau pembawa kemakmuran.
Kuwu Desa Jengkok, Mohammad Taufik menjelaskan bahwa kegiatan ini diawali dengan doa bersama, ritual kidungan, hingga pewayangan yang mengedukasi masyarakat mengenai maksud dan tujuan dari adat tersebut.
"Mudah-mudahan dengan adanya kegiatan Mapag Sri ini kita semua mendapat barokah, kesejahteraan bagi masyarakat Desa Jengkok khususnya di bidang pertanian. Mudah-mudahan hasilnya melimpah dan meningkat," ujar Kuwu Opik sapaan akrabnya.
Desa Jengkok sendiri memiliki potensi pertanian yang luas, yakni sekitar 400 hektar. Dengan rata-rata produktivitas saat ini sebesar 5 hingga 7 ton per hektar, Pemerintah Desa berharap capaian di tahun ini dapat meningkat lebih tinggi lagi demi kesejahteraan petani.
Sementara itu, Ki Dalang Karno memaparkan bahwa inti dari ritual ini adalah Kidungan, yaitu penyampaian doa-doa melalui nyanyian tradisional. Dalam prosesinya, kidung yang dibawakan mencerminkan akulturasi budaya yang unik antara masyarakat Jawa dan Sunda di Indramayu. Penggunaan bahasa dalam liriknya pun mencampurkan elemen kedua bahasa tersebut, seperti pada kata kidungane (Jawa) dan kidunganna (Sunda).
"Isi dari kidung itu adalah permohonan kepada Yang Kuasa agar jangan sampai masyarakat mengalami kekurangan. Salah satu kidung yang dibawakan bernama Waringin Sungsang, yang berisi tata cara manusia memohon kepada Tuhan," jelas Ki Dalang Karno.
Dalam kesempatan tersebut, Ki Dalang Karno juga menjelaskan makna mendalam dari hasil panen yang disajikan dalam ritual ini. Beliau menyebutkan bahwa keberkahan hasil bumi atau palawija dibagi menjadi empat bagian menurut ajaran orang tua zaman dulu. Diantaranya:
- Pala Kependem: Merupakan buah-buahan atau hasil bumi yang berada di bawah bumi atau di dalam tanah, seperti ubi, kacang tanah, dan talas.
- Pala Kesimpar: Merupakan buah-buahan yang tumbuh di atas kaki atau merambat di atas tanah, seperti labu, semangka, dan mentimun.
- Palawija: Merupakan buah-buahan yang posisinya berada di bawah kepala manusia, contohnya adalah padi, kacang kedelai, dan kacang panjang.
- Pala Gumantung: Merupakan buah-buahan yang posisinya menggantung di atas kepala manusia, seperti kelapa, mangga, dan rambutan.
"Jadi berkah itu berbentuk buah-buahan hasil panen yang dibagi menjadi empat bagian rezeki. Ada yang di bawah bumi, di atas bumi, di bawah kepala, dan ada yang di atas kepala," pungkas Ki Dalang Karno. (*)
Editor: Abdul Jaelani