Capai 13,92 Ton per Hektare, Hasil Ubinan Padi di Juntinyuat Indramayu Naik Signifikan


INDRAMAYU – Menjelang musim panen raya di wilayah Kecamatan Juntinyuat, Camat Juntinyuat Ali Alamudin bersama jajaran pertanian melakukan kegiatan ubinan di Blok Buyut Kunir, Desa Juntikedokan, Senin (4/5). Kegiatan proaktif ini ditujukan untuk mengukur potensi riil produktivitas pangan di wilayah tersebut.

Agenda ini dihadiri oleh Kepala UPTD Pertanian dan Ketahanan Pangan Kecamatan Juntinyuat Rido Mardianto, petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Koordinator Relawan Revolusi, serta kelompok tani setempat.

Camat Juntinyuat, Ali Alamudin, menjelaskan bahwa metode ubinan ini diterapkan dengan cara mengambil sampel padi pada lahan berukuran 2,5 x 2,5 meter. Hasil panen dari area sampel tersebut kemudian ditimbang secara riil untuk mendapatkan estimasi produktivitas lahan secara keseluruhan.

“Hasil ubinan menjadi acuan penting dalam melihat potensi panen sekaligus bahan evaluasi bagi peningkatan produksi pertanian di tingkat kecamatan,” ujar Ali Alamudin.

Lahan pertanian milik H. Warnidi, Ketua Kelompok Tani Srikandi Desa Juntikedokan, dipilih menjadi titik pengambilan sampel. Dari hasil pengukuran visual di lapangan, diperoleh data vegetatif sebanyak 56 rumpun dengan jumlah anakan berkisar 50–60 per rumpun, di mana seluruhnya berhasil menghasilkan malai atau bulir padi berisi gabah secara optimal.

"Hasil timbangan ubinan di lokasi ini mencapai 8,7 kilogram. Jika dikonversikan secara matematis, angka tersebut menghasilkan estimasi produktivitas yang sangat tinggi, yaitu sebesar 13,92 ton per hektare Gabah Kering Panen (GKP)," jelas Ali.

Capaian di Blok Buyut Kunir ini tergolong luar biasa dan mengalami lonjakan yang sangat signifikan. Sebagai perbandingan, rata-rata hasil panen padi di wilayah sekitar biasanya hanya berada pada kisaran 7,7 ton per hektare.

Ketua Kelompok Tani Srikandi, H. Warnidi, mengungkapkan bahwa tingginya produktivitas lahan miliknya tidak lepas dari penerapan sistem budidaya yang tepat serta dukungan stimulus dari pemerintah.

Dua faktor utama penunjang keberhasilan panen tersebut antara lain:
Penggunaan Varietas Unggul: Petani menggunakan varietas padi Ciherang Cap Beruang yang dikenal adaptif.
Pemberian Pupuk Hayati Cair: Memanfaatkan bantuan pupuk hayati cair dari pemerintah (Extragen) yang berfungsi efektif sebagai pembenah karakteristik tanah dan perangsang pertumbuhan anakan padi.

"Proses pemberian pupuk cair dilakukan minimal dua kali, yakni diaplikasikan sebelum masa tanam dan pada fase awal pertumbuhan, yang kemudian dikombinasikan dengan pemupukan tabur secara berkala," tutur H. Warnidi.

Kepala UPTD Pertanian dan Ketahanan Pangan Kecamatan Juntinyuat, Rido Mardianto, menegaskan bahwa keakuratan data ubinan ini akan dijadikan sebagai pijakan utama dalam menyusun langkah-langkah strategis pertanian ke depan guna menjaga kontinuitas produktivitas padi di wilayah hukumnya.

Harapan serupa juga disampaikan oleh Koordinator Relawan Revolusi Kecamatan Juntinyuat yang turut mengawal jalannya ubinan. Pihaknya berharap hasil panen yang melimpah ini dibarengi dengan stabilitas harga gabah yang kompetitif di pasaran agar kesejahteraan para petani di Kabupaten Indramayu dapat terus meningkat. (*)
Editor: Ade Irawan
Baca juga
Tersalin!

Berita Terkini

  • Capai 13,92 Ton per Hektare, Hasil Ubinan Padi di Juntinyuat Indramayu Naik Signifikan
  • Capai 13,92 Ton per Hektare, Hasil Ubinan Padi di Juntinyuat Indramayu Naik Signifikan
  • Capai 13,92 Ton per Hektare, Hasil Ubinan Padi di Juntinyuat Indramayu Naik Signifikan
  • Capai 13,92 Ton per Hektare, Hasil Ubinan Padi di Juntinyuat Indramayu Naik Signifikan
  • Capai 13,92 Ton per Hektare, Hasil Ubinan Padi di Juntinyuat Indramayu Naik Signifikan
  • Capai 13,92 Ton per Hektare, Hasil Ubinan Padi di Juntinyuat Indramayu Naik Signifikan