Adat Beguru di Gayo: Warisan Nasihat Sebelum Menempuh Rumah Tangga
Oleh: Sulastri Ulandari
ACEH TENGAH - Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, masyarakat Gayo di Aceh Tengah masih kokoh mempertahankan berbagai tradisi adat yang sarat makna. Salah satu warisan leluhur yang tetap dijaga hingga sekarang adalah adat Beguru. Tradisi ini bukan sekadar acara seremonial menjelang pernikahan, melainkan sebuah ruang sakral untuk penyampaian nasihat, doa, dan pendidikan moral bagi calon pengantin.
Bagi masyarakat Gayo, Beguru memiliki kedudukan yang sangat penting sebagai bekal hidup sebelum seseorang memasuki bahtera rumah tangga. Tradisi ini memperlihatkan eratnya hubungan antara adat, agama, dan kehidupan sosial masyarakat setempat. Bahkan, dalam falsafah hidup masyarakat Gayo dikenal istilah “edet gayo peger ni agama”, yang berarti adat Gayo berfungsi sebagai pagar yang membentengi agama.
Secara harfiah, tradisi Beguru berasal dari kata “guru” atau “belajar”. Dalam konteks adat Gayo, Beguru dimaknai sebagai proses belajar tentang kehidupan. Oleh karena itu, nasihat yang diberikan tidak hanya berkaitan dengan hubungan suami istri, tetapi juga tata cara menghormati orang tua, menjaga nama baik keluarga, dan hidup sesuai ajaran agama.
Rumaini (43), seorang warga Kampung Linge, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, menceritakan bahwa tradisi Beguru masih rutin dilakukan dalam rangkaian pernikahan adat Gayo.
"Tradisi Beguru dilakukan sebelum pelaksanaan pernikahan adat Gayo. Biasanya calon pengantin dikumpulkan bersama keluarga dan tokoh adat untuk diberikan nasihat tentang kehidupan rumah tangga," ujar Rumaini saat diwawancarai penulis.
Dalam pelaksanaannya, calon pengantin duduk bersama keluarga besar, tokoh adat, dan tokoh agama. Mereka menerima petuah mengenai tanggung jawab baru, pentingnya menjaga keharmonisan, hingga nilai-nilai sopan santun dalam bermasyarakat.
Suasana Beguru biasanya berlangsung penuh haru. Tidak jarang calon pengantin beserta keluarga meneteskan air mata saat petuah disampaikan. Momen ini dianggap sebagai wujud kasih sayang mendalam dari orang tua sebelum melepas anaknya memulai hidup baru.
Ibu Rumaini menjelaskan bahwa prosesi ini melibatkan banyak elemen masyarakat, mulai dari orang tua kedua belah pihak, tokoh adat, tokoh agama, hingga tetangga sekitar. Perlengkapan adat seperti pakaian adat Gayo, tikar adat, dan hidangan tradisional juga turut disiapkan sebagai simbol penghormatan. Tidak hanya berisi petuah, Beguru juga menjadi simbol kebersamaan.
Tradisi ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Gayo saling membantu dan mendukung keluarga yang sedang menggelar hajatan pernikahan. Di beberapa daerah di Tanoh Gayo, acara Beguru bahkan diiringi oleh alunan musik tradisional becanang yang dimainkan sebagai penanda dimulainya prosesi adat.
Secara esensi, Beguru merangkum banyak nilai kehidupan. "Tradisi ini mengajarkan nilai pendidikan, nilai agama, sopan santun, tanggung jawab keluarga, dan kebersamaan masyarakat. Semua nilai tersebut diwariskan secara turun-temurun agar generasi muda tetap memahami etika," tambah Rumaini.
Di era digital saat ini, sebagian generasi muda mulai berjarak dengan tradisi daerahnya akibat pengaruh media sosial dan budaya luar. Namun, masyarakat Gayo tidak tinggal diam dan terus berupaya menjaga adat Beguru agar tidak hilang ditelan zaman. Tokoh adat dan orang tua memegang peranan krusial dalam memperkenalkan tradisi ini melalui ruang-ruang keluarga maupun kegiatan adat di kampung.
Ibu Rumaini mengakui, meski esensinya tetap terjaga, ada sedikit penyesuaian dalam implementasi Beguru saat ini. "Sekarang waktu pelaksanaannya lebih singkat dan menyesuaikan kondisi modern, tetapi makna adatnya tetap dipertahankan," ungkapnya.
Menurutnya, generasi muda sebenarnya masih sangat menghargai Beguru, namun mereka perlu terus diberikan pemahaman agar tidak kehilangan identitas budayanya.
"Beguru bukan hanya adat, tetapi juga warisan budaya dan pendidikan hidup. Oleh karena itu, masyarakat harus menjaga dan melestarikannya sebagai identitas masyarakat Gayo," tegas Rumaini.
Keberadaan adat Beguru di era modern menjadi bukti konkret bahwa masyarakat Gayo tetap menjunjung tinggi nilai budaya dan agama. Tradisi ini menjadi pengingat yang indah bahwa sebuah rumah tangga tidak hanya dibangun dengan cinta, melainkan juga dengan fondasi nasihat, doa, dan nilai kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi. (*)
Editor: Redaksi