PWI Indramayu Apresiasi Tiga Tokoh Strategis Penjaga Ketahanan Pangan
Penghargaan ini diserahkan langsung oleh Ketua PWI Indramayu, H. Dedy S. Musashi, bersama Sekretaris Cipyadi dan Wakil Ketua Bidang Organisasi Abdul Gani, di sela-sela persiapan aksi tanam kedelai di lahan seluas 200 hektar, Desa Sukamulya, Kecamatan Tukdana, Minggu (26/4).
Ketiga tokoh tersebut yakni pengusaha H. Mulyadi, pakar bioteknologi Prof. Dr. Ir. Ali Zum Mashar, dan Kolonel Laut (P) Edi Eka Susanto, dianggap berhasil menyinergikan teknologi, modal, dan kebijakan negara dalam satu hamparan lahan di Indramayu.
Menurut Dedy Musashi (Demush), sosok H. Mulyadi telah berhasil menggerakkan program ketahanan pangan di Kabupaten Indramayu melalui gerakan menanam jagung dan kedelai di lahan-lahan yang selama ini tidak termanfaatkan (lahan tidur).
H. Mulyadi dinilai mampu mengajak kelompok tani untuk bangkit dalam mengatasi persoalan ketahanan pangan nasional. Demush mengatakan bahwa dedikasi H. Mulyadi patut diapresiasi karena ia berhasil memberdayakan petani khususnya yang berada di sekitar kawasan hutan tanpa membebani mereka dengan masalah bibit, biaya operasional, maupun penjualan hasil panen yang selama ini menjadi kendala utama.
"Ini yang kami apresiasi. Saat petani kesulitan permodalan untuk menanam, hadir sosok H. Mulyadi yang memberikan kemudahan dalam pemenuhan kebutuhan mereka," jelas Dedy Musashi.
Sosok lainnya adalah Prof. Dr. Ir. Ali Zum Mashar, seorang peneliti bioteknologi yang telah malang melintang melakukan penelitian tanaman pangan, khususnya kedelai, di berbagai wilayah Indonesia.
Menurut Dedy, setelah melakukan riset di berbagai daerah mulai dari Lampung, Manado, hingga Simalungun, Prof. Ali akhirnya memilih Kabupaten Indramayu. Tujuannya tetap satu, agar Indonesia tidak lagi bergantung pada impor kedelai. Ia melakukan penelitian mendalam terhadap unsur hara tanah di lahan bekas perkebunan tebu di Indramayu yang dinilai sangat cocok dengan bibit kedelai hasil temuannya.
"Hasil penelitian Prof. Ali Zum akan diterapkan di Indramayu. Dengan ketersediaan lahan dan sumber daya manusia yang mumpuni, insya Allah masalah ketahanan pangan dan ketergantungan impor kedelai akan teratasi di sini," tambahnya.
Tokoh ketiga yang disorot Dedy adalah Kolonel Laut (P) Edi Eka Susanto, sosok yang telah lama berkecimpung dalam pengembangan kedelai. Sebagai bagian dari Sekretariat Kabinet (Seskab) di bawah kepemimpinan Letkol Teddy, ia bertugas menerjemahkan gagasan Presiden Prabowo Subianto dalam mengurangi ketergantungan impor melalui program Asta Cita.
Dedy menjelaskan bahwa Kolonel Kedelai ini telah berkeliling Nusantara untuk mencari lahan yang paling potensial guna menjadikan Indramayu sebagai pusat lahan tanam kedelai nasional.