INDRAMAYU, (nusantaraindonesia.id),- Kebudayaan Wastra Tenun Gedogan merupakan salah satu kerajinan yang terdapat di Kabupaten Indramayu tepatnya di Desa Juntikebon, Kecamatan Juntinyuat yang aktivitasnya mungkin saat ini sudah sulit ditemukan.

Untuk itu, dalam memperingati Hari Tenun Nasional, Pemkab Indramayu mengadakan Sarasehan Pemajuan Kebudayaan Wastra Tenun Gedogan Indramayu yang diadakan di Ruang Ki Tinggil Indramayu, Kamis (07/09/2023).

Bupati Indramayu Nina Agustina yang diwakili Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Dispara) Kabupaten Indramayu, Trinani Rochaeningsih hadir dalam acara tersebut.

Selain itu hadir juga Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Kemendikbudristek RI, Dwi Ratna Nurhajarini, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Indramayu, Uum Umiyati dan Perwakilan Dinas Koperasi, UKM, Perdagangan dan Perindustrian (Diskopdagin) Kabupaten Indramayu serta Budayawan Indramayu, Supali Kasim.

Dalam sambutannya, Kepala Dispara Kabupaten Indramayu, Trinani Rochaeningsih mengatakan, Bupati Indramayu Nina Agustina sangat mendukung dalam mengangkat kebudayaan di Indramayu salah satunya dalam pemecahan rekor tari topeng pada tahun 2022.

“Pada saat kepemimpinan beliau ini, Ibu Bupati, khususnya dalam bidang kebudayaan sangat luar biasa sekali, beliau sangat mensuport dan mengangkat budaya-budaya yang sebelumnya mati, contohnya adalah seni topeng, berokan dan lain sebagainya,” katanya.

Menurut laporan panitia, Nurmaya juga selaku peneliti kain tenun gedogan junti menceritakan perjalanannya dari tahun 2017 dalam menjaga dan melanjutkan kebudayaan tenun gedogan junti yang asli dari Indramayu.

“Dalam perjalanan kami yang panjang ini kami telah menyelenggarakan berbagai acara dengan tujuan untuk mengenalkan lebih banyak kepada orang mengenai estetika dan kekayaan tenun gedogan Indramayu. Mengadakan kegiatan ini adalah langkah kami untuk berharap bahwa semangat kami dalam menjaga warisan budaya Indramayu, khususnya tenun gedogan junti akan tetap tumbuh dan berkembang,” jelasnya.

Nurmaya juga berharap kegiatan ini menjadi langkah awal untuk berkolaborasi dalam pengembangan kebudayaan dan menciptakan peluang bagi perajin dalam meningkatkan perekonomian Indramayu.

“Kami berharap, bahwa sarasehan ini juga akan menjadi langkah awal untuk lebih erat berkolaborasi dalam pengembangan kebudayaan, dengan kerjasama dan semangat yang kuat kita dapat bersama-sama melestarikan dan memajukan kebudayaan Indramayu, menciptakan peluang bagi para perajin dan menginspirasi generasi mendatang untuk mencintai dan mengawal warisan budaya kita,” lanjutnya.

Sementara itu hadir juga perajin tenun gedogan Indramayu, Sunarih serta juga perajin tenun baduy Banten, Itoh Marsela dan inovator tenun Tuban, Nanang Qosim untuk berbagi cerita dan pengalamannya.

Kemudian, dalam sambutannya Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Kemendikbudristek RI, Dwi Ratna Nurhajarini berharap kegiatan sarasehan ini dapat diketahui lebih banyak orang lagi, terutama dalam menggunakan media.

“Saya harap, kegiatan ini dapat diketahui oleh lebih banyak orang, disamping undangan yang hadir disini, dapat melalui media dengan menjadi fokus pada jejak kebudayaan, karena dengan media inilah, kita bisa mendorong, juga praktik baik apapun yang sudah ada di masyarakat itu bisa diketahui lebih luas lagi. Sehingga virus positif ini akan cepat menyebar dan agar cepat di duplikasi di tempat lain, tentu dengan segala inovasi dan dengan segala kemampuan disesuaikan dengan daerah masing-masing, jadi media menjadi sangat penting untuk kita menyebarluaskan ini,” harapnya.

Selanjutnya dalam sesi diskusi yang dipandu oleh Budayawan Indramayu, Supali Kasim mengatakan budaya tenun gedogan di Indramayu memiliki sejarah panjang dan sudah tercatat dalam warisan budaya Indonesia.

“Tenun gedogan ini memiliki sejarah yang panjang dan sudah tercatat sebagai warisan budaya WBTB (Warisan Budaya Tak Benda) Indonesia Kemendikbudristek RI, hal itulah yang menjadikan kita berkumpul pada hari ini secara artistik dan aestetik dalam berdiskusi dan mendorong kebudayaan khususnya di Indramayu,” Ujarnya. (Abdul Jaelani)