DIY, (nusantaraindonesia.id),- Keraton Yogyakarta kembali menggelar Hajad Dalem Garebeg Besar dalam rangka memperingati Iduladha 1444 H pada Kamis (29/06). Pelaksanaan Garebeg Besar ini digelar dengan iring-iringan 10 Bregada Prajurit Keraton yang mengawal tujuh buah gunungan menuju tiga titik lokasi, yakni Masjid Gedhe Kauman, Kompleks Kepatihan, dan Puro Pakualaman.

Satu gunungan kakung yang diantar menuju Kompleks Kepatihan sebagai kantor Gubernur DIY, diterima langsung oleh Sekretaris Daerah DIY, Beny Suharsono di Pendopo Wiyatapraja, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta. Gunungan yang diantarkan oleh KRT. Widyacandra Ismayaningrat dan M.Riya. Yudahadiparwoto ini kemudian diperebutkan oleh warga masyarakat di Lapangan Kompleks Kepatihan.

Dalam sambutannya saat menerima gunungan Garebeg Besar, Beny mengatakan, atas nama Pemda DIY dirinya menyambut para tamu, abdi dalem dan para prajurit Bregada Keraton yang mengantar gunungan. Selanjutnya, Beny berharap semua pihak yang hadir pada Garebeg Besar di Kompleks Kepatihan ini diberkahi kesejahteraan.

“Kami juga memberikan salam dan mengucapkan terima kasih kepada Ngarsa Dalem Yang Mulia Sultan Hamengku Buwono X di Keraton Yogyakarta. Semoga Ngarsa Dalem beserta istri, anak, keluarga, dan warga Dalem selalu diberkati kesehatan yang baik, keselamatan, umur panjang, kekayaan bebas dari masalah, dan keberuntungan di setiap saat,” imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama, KRT. Widyacandra Ismayaningrat mengatakan, kedatangannya mengantarkan gunungan ini merupakan wujud menjalankan perintah dari Ngarsa Dalem. Ngarsa Dalem pun menitipkan salam keapda Sekda DIY beserta para pejabat Pemda DIY yang menghadiri Garebeg Besar di Kompleks Kepatihan.

“Bertepatan dengan Garebeg Besar, Ngarsa Dalem memberikan satu gunungan jaler (laki-laki) untuk dibawa ke Kepatihan. Selanjutnya, mari kita bersama-sama berdoa semoga Ngarsa Dalem dan keluarga diberikan panjang umur, kesehatan dan kesejahteraan,” imbuhnya.

Sementara itu, Warga Giwangan, Umbulharjo, Yogyakarta, Darmini mengatakan, hampir setiap tahunnya ia mengikuti rayahan gunungan pada Garebeg Besar. Untuk lokasi, selalu berganti-ganti Masjid Gedhe Kauman atau di Kompleks Kepatihan.

“Hari ini sekalian main ke Malioboro, jadi (rayahan) ke Kepatihan saja. Ini kebetulan dapat kacang panjang, lumayan bisa dimasak buat makan sekeluarga, apalagi harganya sekarang mahal di pasar. Kemarin sudah makan daging terus, nanti bisa makan sayur,” ungkapnya.

Sebagai informasi, dalam satu tahun, Keraton Yogyakarta melaksanakan tiga kali Garebeg, yakni Garebeg Sawal saat Idulfitri, Garebeg Besar pada Iduladha, dan Garebeg Mulud saat peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Gunungan merupakan simbol pemberian atau sedekah dari raja kepada rakyatnya. Sedekah yang dimaksud, terdiri dari hasil bumi, termasuk jajanan tradisional seperti wajik. Dan sebelum diperebutkan warga masyarakat, gunungan didoakan terlebih dahulu. (Red)